Itu sih bukan pulang cepet

Saya sudah punya tempat langganan untuk menitipkan motor. Tidak pernah pindah-pindah. Salah satu alasannya adalah, yang jaga parkir penitipannya adalah 2 anak muda yang ramah. Selain itu lokasinya tidak jauh dari stasiun Depok Lama, tapi juga tidak terlalu dekat.

Ada jarak dari stasiun kira-kira 300 meter. Jadi saya masih  bisa memaksa men-jalankaki-kan diri setidaknya setiap pagi dan sore.

Saya biasanya mengambil motor kurang lebih jam 7:40.  Ini naik KRL ‘seadanya’ dari Manggarai.  Kadang – kadang ngambil motor jam 22:35, kalau naik kereta ekoAC yang berangkat Manggarai jam 10 malam. Yang paling sering sampai di tempat penitipan jam 21:05 – kalau naik kereta yang jam 8 malam dari Manggarai.

Karena hari ini saya ada keperluan di rumah dan berencana minta ijin untuk pulang lebih cepat, pagi – ketika menitipkan motor saya berpesan pada yang jaga, bahwa saya akan pulang cepat. Hal ini harus dilakukan, karena kalau tidak, sesuai dengan kebiasaan saya untuk ambil motor jam 9 malam, maka posisi motor saya selalu berada di pojok. Tertutup dengan barisan motor-motor lain. Dan kalau tetap di situ, maka saya akan kesulitan mengeluarkan motor kalau ngambilnya lebih sore, karena motor-motor di sekeliling motor saya masih lengkap.

Sore itu, setelah mendapatkan ijin pulang cepat, saya langsung kabur menuju stasiun Manggarai dan kebagian ekoAC balik yang berangkat jam 16:00. Dan saya sudah sampai di stasiun Depok Lama jam 16:33.

Dan disinilah masalahnya ….

Shogi saya posisinya masih meringkuk di pojokan – di tempat biasa. Tidak berselang lama, penjaganya menghampiri saya.

“Masih susah posisinya pak. Masih di pojok noh,” dia menunjuk ke arah motor saya. Seolah-olah kalau dia tidak menunjukkan tempatnya, saya akan kesulitan menemukan posisi motor saya.

“Koq posisinya di tempat biasa? Saya kan sudah pesen tadi, mau pulang cepat.”

“Bapak sih bilangnya pulang cepat. Kalau mau pulang jam segini, bukan pulang cepat tuh pak. Tapi pulang sore.”

HAH? Maksudnya?

Saya perhatikan penjaga itu datang dengan langkah santai mendekat ke arah motor saya. Lalu berdiam diri di situ sambil melihat ke arah shogi saya.

Mungkin sedang menganalisa dan mencari cara untuk mengeluarkan motor saya dari jepitan motor-motor lain.

” Wah ini susah pak.” Ups …

“Kalau posisinya gini sih, habis maghrib baru bisa keluar.” Dia langsung ngeloyor balik ke tempat duduknya semula.

HAH?  Gimana ceritanya nih? Ijin dari kantor sudah didapat. Kereta sudah tepat dan bahkan cepat. Masa saya masih juga telat?

“Emang susah ya mas?”  saya bertanya sambil melihat lebih cermat posisi motor saya. Kira-kira bisa digeser gak ya?

Melihat saya kelihatan ngotot ngeluarin motor, dia datang menghampiri saya lagi.

“Kayaknya bisa deh. Yang ini di mundurin sampai pintu, lalu yang kuning itu digeser ke sini, yang merah di mundurin biar bla ..bbla… bla… bla … Gimana? Kita coba yuk? Bareng-bareng?” Saya mencoba memberikan usulan dengan wajah sumringah. Padahal dalam hati ….. hehehehe.

“Kalau motor yang itu, motor yang warna merah itu, kalau susah dimundurin, nanti kita angkat bareng lalu dicantolin aja di plafon situ bentar,” kali ini cuma dalam hati. Hehehehe .

Setelah bimbang sejenak, dia akhirnya bergerak juga. Sore itu, saya merasakan menjadi petugas jaga penitipan motor.

Hasilnya?

Shogi saya akhirnya berhasil meloloskan diri dari kepungan teman-temannya di area penitipan.

2 thoughts on “Itu sih bukan pulang cepet”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s