Belajar menghargai …

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang asyik di depan komputer, anak perempuan saya yang masih kelas 3 SD  dengan penuh semangat menunjukkan jarinya dan memaksa saya untuk melihat. Dengan malas saya menoleh. Sebentar. Selain memang sedang suntuk karena design yang harus saya kerjakan berubah-berubah terus, saya juga tidak terlalu tertarik dengan apa yang dia tunjukkan.

Permainan karet gelang. Bidadari saya menunjukkan karet gelang yang  dikaitkan di kedua tangannya dan dengan gerakan tertentu menghasilkan bentuk-bentuk yang berbeda.

“Ini huruf A …, W…. lalu Y. Terus ……..kupu-kupu. Bagus kan?” Celotehnya dengan riang.

Saya melirik. Sekilas. Pandangan saya kembali ke monitor. Anak saya masih terus menunjukkan beberapa bentuk lagi, sambil menerangkan bentuk apa yang sudah selesai. Bagus … bagus. Sesekali saya berkomentar. Lama kelamaan  dia sadar bahwa saya nyaris tidak memperhatikan dia sama sekali. Perlahan dia beringsut ke dekat tv.

Merasa tidak ada gangguan saya meneruskan pekerjaan saya kembali. Dan peristiwa itu hampir tak meninggalkan arti pada saya. Saya sudah melupakannya.

Hingga hari ini … 

Ketika saya merasa bahwa pekerjaan saya tidak dihargai
Ketika segala upaya dianggap sekedar menjalankan tugas kuli
Ketika pengorbanan menjadi sama sekali tak berarti

Duh Gusti …
Dalem nyuwun diparingi kekiyatan ….

Dan tiba-tiba saya teringat permainan karet gelang bidadari.
Mengingatkan saya, bahwa saya masih banyak harus belajar tentang menghargai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s