Konesi internet lambat?

internet-lemot
“Duuuh. Ini koneksi lambat amat yak? Udah diketik, munculnya baru 3-5 detik kemudian…”

Saya sedang remote ke PC kantor, karena harus mematikan bbrp server. Tapi, koneksi malam ini berasa lemot banget. Jauh berbeda, dibandingkan kemarin ketika saya mengerjakan hal yang sama.

Apa karena pengaruh hujan ya?” Cibinong diguyur hujan cukup deras.

“Apaan?” terdengar suara istri saya. Saya menengok. Istri saya terlihat pulas. Meringkuk di bawah selimut tebal.

“Iya. Ini tumben. Koneksi internet lelet banget. Masak gara2 hujan?” Saya menatap monitor. Tombol shutdown sudah saya klik, tapi masih belum ada respon. Hmmm…

“Bisa jadi.” Suara istri saya. Masih kelihatan tidur. Matanya terpejam. Saya menyusul ke tempat tidur. Ikutan masuk ke dalam selimut. Saya memeluk istri dari belakang. Berbisik di telinganya.

“Apanya yang bisa jadi?” Istri saya menggeliat halus. Menarik tangan saya untuk memeluknya. Saya perhatikan matanya masih terpejam rapat.

Lanjutkan membaca Konesi internet lambat?

Sering ya pak?

Tuk_tuk Bajaj, Jakarta, Indonesia, Southeast Asia, Asia

Ini masih tentang yang akhirnya saya naiki. Lebih tepatnya tentang sopir bajaj, yang membawa saya ke kantor di hari libur ini.

Penting ya disebut hari liburnya?
Biarin! Hehehe …

Untuk mengisi waktu, seperti biasa – saya suka ngajak ngomong abang bajaj. Begini percakapannya.

Saya : “Bang … Itu jalanan ditutup kenapa sih?”
Abang bajaj : “Itu pak. Berantem. Dari Tadi malam tuh. Gak tau masalahnya apaan.”
Saya : “Sering ya bang?”

Si abang bajaj terdiam sejenak. Mungkin lagi ngitung-ngitung, yang masuk kategori sering itu yang gimana.

Lanjutkan membaca Sering ya pak?

Tiga puluh ya?

photo hanya illustrasi saja
photo hanya illustrasi saja

Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan hari Minggu ini. Setelah lepas dari gerombolan polisi itu, hambatan saya menuju kantor di hari libur ini belum usai.

Sesampai di sta. Manggarai, ternyata bajaj yang biasanya mau mengantar saya sampai ke kantor dengan ongkos 15 rb, kali ini bersikukuh minta 20 rb. Remaja tanggung yang dari tadi mepet ke bajaj ketika saya menawar, memberitahu bahwa semua bajaj naik. Karena di manggarai lagi ada tawuran.

Ya sudah. Saya memutuskan untuk jalan kaki saja. Toh sepanjang perjalanan pasti ramai. Jadi saya langsung berjalan kaki mengarah ke jalan tambak.

Tapi gagal.

Kerumunan orang bisa ja saya tembus. Tapi saya tak cukup nyali ketika mendengar beberapa kali ledakan di ujung jalan. Bukan hanya sekali. Selama saya di situ tidak sampai 10 menit, sudah saya dengar 3 kali ledakan.

Lanjutkan membaca Tiga puluh ya?

Polisinya baik-baik ya?

lokasi transaksi
lokasi transaksi

Polisi : “Jadi kalau ikuti peraturan, ini daftar dendanya.”

Saya melirik lembar denda yg disodorkan. Polisi itu menunjuk ke angka 250 rb dan 500 rb.

Saya : “Jadi gimana nih pak? Motornya ditahan atau gimana?”

Saya baru teringat, polisi yang menghentikan saya tadi, sempat nanya, saya kerja di mana. Iya. Saya lupa, harusnya saya bilang – saya wartawan.

Polisi : “Kami gak bisa nahan kendaraan. Bapak ada dana berapa? Tapi STNKnya ada kan?”

Saya hanya mengangguk sambil mikirin, gimana ya cara aktifin recorder di hape.

Lanjutkan membaca Polisinya baik-baik ya?

Indahnya kebersamaan …

10629832_10202789369202600_5932447473267435350_n_Snapseed2Kehebohan di dalam bis yang membawa kami ke Ciater. Kebersamaan memang tidak ada nilainya.  Walaupun awalnya sempat ragu untuk ikut serta dalam rombongan wisata yang diadakan oleh ibu-ibu RT 008 RW 012 ini.

 

Lagi kampanye?

10583874_10202715762362475_467708656761694135_n

Tidak ada yang istimewa dengan photo di atas. Biasa saja. Kami sering photo berduaan. Dulu, ibu bidadari selalu bilang saya norak dan gak inget umur, kalau dah mulai narsis-narsisan di depan kamera. Gak inget umur katanya. Hehehehe ..

Gak inget umur katanya. Hehehehe ..

Tapi kalau dipikir-pikir, bukan masalah gak inget umur. Waktu kecil, saya gak beruntung bsia photo-photo. Belum jamannya. Mungkin photo yang saya punya pada saat kecil, ya hanya pas photo yang digunakan untuk ijasah saja. LAlu ketika awal-awal kerja di Jakarta, saya kebagian jadi tukang photo. Jadi disetiap photo yang saya buat, hampir sebagian besar gak menampilkan wajah saya.

Lanjutkan membaca Lagi kampanye?

%d blogger menyukai ini: