Arsip Tag: pekerjaanku

Masalah sepele

Sebagai staff IT Support, sudah tidak terhitung lagi, berapa kali saya menemui user yang meminta bantuan hanya untuk masalah-masalah sepele. Jaringan yang tidak terhubung hanya karena kabel networknya lepas. Tidak bisa membuka sebuah dokumen, karena file yang diterimanya melalui email dibuat dalam versi yang lebih tinggi daripada yang terpasang di komputernya. Komputer yang tidak mau hidup karena kabel catudayanya tersenggol. Gagal kirim email karena penulisan alamat emailnya salah ~ cuma beda 1 huruf dowang pak – hadoooh.

Dan masih banyak masalah – masalah sepele lain, yang menurut saya seharusnya mereka bisa menyelesaikan sendiri. Eiiit … tunggu dulu! Benarkah itu termasuk masalah-masalah yang sepele?

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu ketika ngecat rumah.

Lebih dari 15 menit saya harus berkutat membuka tutup cat. Saya mencoba mencari celah dan saya congkel dengan obeng. Tidak aau. Saya putar-putar ke kiri dan ke kanan tutupnya, tidak juga berhasil. Akhirnya saya membukanya dengan membuat lobang di tutupnya. Dari lobang itu baru saya congkel tutupnya menggunakan obeng. Beres?

Sementara dowang. Ketika sudah sore dan sudah selesai, sisa cat tidak bisa ditutup lagi, karena tutupnya sudah mleyot tidak berbentuk dan berlobang.  Membuka kaleng cat – untuk orang yang tidak terbiasa – memang bukan lagi masuk kategori masalah sepele.

Saya nelajar satu hal dari kejadian ini, saya tidak lagi mempunyai kategori masalah sepele – kalau ada user yang membutuhkan bantuan. Siapa tahu dia lebih jago dari saya dalam hal membuka kaleng cat.


Belajar menghargai …

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang asyik di depan komputer, anak perempuan saya yang masih kelas 3 SD  dengan penuh semangat menunjukkan jarinya dan memaksa saya untuk melihat. Dengan malas saya menoleh. Sebentar. Selain memang sedang suntuk karena design yang harus saya kerjakan berubah-berubah terus, saya juga tidak terlalu tertarik dengan apa yang dia tunjukkan.

Permainan karet gelang. Bidadari saya menunjukkan karet gelang yang  dikaitkan di kedua tangannya dan dengan gerakan tertentu menghasilkan bentuk-bentuk yang berbeda.

“Ini huruf A …, W…. lalu Y. Terus ……..kupu-kupu. Bagus kan?” Celotehnya dengan riang.

Saya melirik. Sekilas. Pandangan saya kembali ke monitor. Anak saya masih terus menunjukkan beberapa bentuk lagi, sambil menerangkan bentuk apa yang sudah selesai. Bagus … bagus. Sesekali saya berkomentar. Lama kelamaan  dia sadar bahwa saya nyaris tidak memperhatikan dia sama sekali. Perlahan dia beringsut ke dekat tv.

Merasa tidak ada gangguan saya meneruskan pekerjaan saya kembali. Dan peristiwa itu hampir tak meninggalkan arti pada saya. Saya sudah melupakannya.

Hingga hari ini …  Continue reading


Berarti belum bisa

Dari pembicaraan telepon dengan call center (CC) sebuah Bank.

Sy : Halo. Selamat sore.
CC : XXXXX selamat sore, dengan YYYYbagaimana saya bisa membantu?
Sy : Mau tanya untuk penggunaan phone banking mbak …
CC : Iya …
Sy : Itu nomor apa saja yang bisa ya mbak – operatornya?
CC : Dengan bapak siapa – mohon maaf?
Sy : Pamuji. Pak Pamuji [bukan pak Muji].
CC : Bapak Muji [tuh bener kan - pasti salah. huh!], kalau untuk ponsel banking bisa seluruh GSM bisa pak.
Sy : Untuk memasukkan nomornya – penulisannya 089 … misalnya saya pakai Three, itu 0898 atau harus pakai 62 dulu ya? Koq saya gagal terus pakai Three ya?
CC : Keterangan di layarnya seperti apa pak?
Sy : Nomor yang Anda masukkan salah.
CC : Ohh. Bapak pakai Three ya. Sebentar saya konfirmasi dulu ya pak Muji. Untuk Three apakah sudah kerjasama atau belum. Mohon ditunggu sekitar satu menit.
Sy : [HAH? Katanya semua GSM bisa. Apakah Three itu bukan GSM ya?]

Music on hold sekitar 1 menit 13 Detik.

CC : Pak Muji, terima kasih telah sabar menunggu.  Bapak Muji, untuk peng-inputannya itu kan sesuai dengan nomor handphone-nya ya. Seperti itu … Jadi kalau misalnya tidak bisa, berarti untuk Three belum bisa bapak.

Sy : [HAH? Kalau tidak bisa = belum bisa. Cara menyimpulkannya koq sangat sederhana sekali ya].

….

Percakapan selanjutnya menjadi tidak penting lagi.

Kesimpulan dari percakapan di atas :

  1. Kalau ada yang bilang ‘seluruh GSM’ – untuk orang-orang tertentu, bisa berarti tidak termasuk Three.
  2. Kalau sesuatu hal setelah dicoba dikerjakan tetapi tidak berhasil = belum bisa. :P
  3. Kalau mencari informasi mengenai sesatu hal, jangan terlalu berharap banyak – biar kecewanya juga tidak terlalu banyak.

Ah … Lagi-lagi postingan gak jelas. Sedang suntuk harus ngoprek voice recorder karena hasil rekamannya jelek banget. Hehehe ….


Bisa karena kepepet

Ungkapan yang  sudah umum kita dengar adalah, alah bisa karena biasa. Sesuatu yang biasa dikerjakan – pasti lama-lama bisa.  Tapi hari ini saya mendapat pelajaran baru. Bisa karena kepepet.

Kalau ada masalah atau gangguan telepon, biasanya tugas saya mencari di mana masalahnya. Apakah dari line Telkom atau masalah ada di PABX kami. Kalau masalahnya sudah ditemukan, kami berbagi tugas untuk mengerjakan perbaikannya.

Entah bagaimana awal mulanya, saya kebagian mengerjakan secara software – merubah program di PABX , menentukan port yang akan digunakan dan mendokumentasikannya - sedangkan rekan kerja saya di kantor yang akan mengerjakan hardware - kabel dan pernak-perniknya, termasuk ‘operasi’ di  MDF box.  Pembagian tugas itu sampai saat ini tidak pernah ada masalah. Lancar – lancar saja.

Sampai hari ini.

Ketika ada gangguan di salah satu call center kami, kebetulan rekan kerja saya sedang ada keperluan di luar kantor. Sedangkan perbaikan masalah tidak bisa menunggu lagi, mengingat fasilitas yang bermasalah itu dipakai oleh seluruh member dari seluruh Indonesia.

Begitulah. Saya memberanikan diri untuk ngoprek kabel – bagian pekerjaan yang biasanya saya tidak ikut-ikutan. Dinginnya ruang server malah membuat saya semakin grogi. Salah sedikit dengan kabel yang sekian banyak itu, alih-alih menyelesaikan masalah, bisa-bisa saya malah menambah masalah.

Hampir 30 menit saya mengerjakan pemindahan line ke klem yang baru – termasuk memastikan sambungan bisa diteruskan ke device yang seharusnya.

Hasilnya?

Tidak sia-sia saya memaksakan diri dalam keadaan kepepet. Semua berjalan normal kembali.


Kenapa ya?

Dua hari kemarin (senin dan selasa), melihat daftar pekerjaan di kantor, saya sudah membayangkan bahwa saya akan pulang malam. Setidaknya tidak bisa pulang tepat waktu seperti yang saya rencanakan.

Kenyataannya?

Dua hari kemarin saya bisa pulang cepat (dari kantor jam 18:00 – itu sudah termasuk pulang cepat untuk ukuran saya) dan sampai di rumah lebih awal. Pekerjaan memang yang lumayan padat dan mengharuskan saya  mondar-mandir di 2 lokasi kantor. Tetapi tidak ada yang harus saya kerjakan sampai malam.

Hari ini …. Continue reading


Tak ada rencana yang sempurna

kecapekan - lemburSudah terlalu sering saya pulang malam. Bahkan pernah terjadi, untuk waktu beberapa hari bulan pada sekitar 3 tahun yang lalu,  ada periode dimana saya lebih sering menginap di kantor. Seminggu hanya pulang 2 x.  Terkadang memang karena ada pekerjaan di kantor yang mengharuskan saya pulang malam. Tapi lebih sering alasannya (dulu) adalah untuk menghemat ongkos.  Hehehe ….

Tapi itu dulu …

Mengawali tahun 2011 ini, saya sudah merencanakan untuk selalu pulang kantor tepat waktu. Jam 17:30 WIB tepat, saya bertekad untuk bisa berjalan meninggalkan gerbang kantor menuju stasiun – pulang. Dan sebagai gantinya, saya berniat untuk berangkat lebih awal pagi dari biasanya. Jadi kalau biasanya berangkat naik kereta ekonomi AC dari sta. Depok jam 07:20, saya kan berusaha untuk bisa ikut KRL ekonomi non-AC yang berangkat jam 06:05.

Itu rencananya. Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.