Arsip Tag: corat – coret

Tertahan hujan …

KRL jurusan Bogor yang saya naiki baru saja berhenti di stasiun Depok. Saya berdesak-desakan keluar dengan agak susah, karena dari arah luar para penumpang yang akan menuju Depok menyerbu masuk. Setelah bersusah payah, saya berhasil membawa badan besar saya ke luar gerbong. Peron penuh banget. Tumben. Dan saya baru sadar apa penyebabnya.

Hujan deras banget!!!

Selama di dalam kereta tidak terasa hujannya. Duuuh. Mau duduk di peron, kayaknya dah gak memungkinkan lagi. Tapi peron seberang kayaknya masih longgar. Dengan sedikit nekad saya lari ke seberang. Baru saja mau melangkah memasuki peron, hujan sepertinya berkurang. Tiba-tiba saja. Saya membatalkan ke peron dan langsung menyeberang jalur 1 menuju pintu ke luar. Belum lagi melangkah keluar dari stasiun, tiba-tiba (ya .. dari tadi tiba-tiba melulu) hujan menggila lagi.  Terpaksa saya menunggu bersama penumpang lain yang terjebak di situ.

Saya tidak takut air. Saya jarang  menunggu hujan berhenti. Biasanya saya langsung menerabas hujan. Toh sampai rumah saya bisa langsung bisa mandi dan ganti baju. Tetapi sekali ini, kelihatannay saya harus merubah kebiasaan itu. Berlembar-lembar contoh soal yang saya bawa pastilah tidak segagah saya dalam menerobos hujan. Kalau dipaksakan, pastilah menjadi bubur kertas sesampainya di rumah.

Saya memutuskan menanti hujan reda.


Itu sih bukan pulang cepet

Saya sudah punya tempat langganan untuk menitipkan motor. Tidak pernah pindah-pindah. Salah satu alasannya adalah, yang jaga parkir penitipannya adalah 2 anak muda yang ramah. Selain itu lokasinya tidak jauh dari stasiun Depok Lama, tapi juga tidak terlalu dekat.

Ada jarak dari stasiun kira-kira 300 meter. Jadi saya masih  bisa memaksa men-jalankaki-kan diri setidaknya setiap pagi dan sore.

Saya biasanya mengambil motor kurang lebih jam 7:40.  Ini naik KRL ‘seadanya’ dari Manggarai.  Kadang – kadang ngambil motor jam 22:35, kalau naik kereta ekoAC yang berangkat Manggarai jam 10 malam. Yang paling sering sampai di tempat penitipan jam 21:05 - kalau naik kereta yang jam 8 malam dari Manggarai.

Karena hari ini saya ada keperluan di rumah dan berencana minta ijin untuk pulang lebih cepat, pagi – ketika menitipkan motor saya berpesan pada yang jaga, bahwa saya akan pulang cepat. Hal ini harus dilakukan, karena kalau tidak, sesuai dengan kebiasaan saya untuk ambil motor jam 9 malam, maka posisi motor saya selalu berada di pojok. Tertutup dengan barisan motor-motor lain. Dan kalau tetap di situ, maka saya akan kesulitan mengeluarkan motor kalau ngambilnya lebih sore, karena motor-motor di sekeliling motor saya masih lengkap.

Sore itu, setelah mendapatkan ijin pulang cepat, saya langsung kabur menuju stasiun Manggarai dan kebagian ekoAC balik yang berangkat jam 16:00. Dan saya sudah sampai di stasiun Depok Lama jam 16:33.

Dan disinilah masalahnya …. Continue reading


Holiday ke mana?

Holiday itu hari libur kan ya? Seharusnya juga diisi dengan berlibur. Atau minimal kegiatan-kegiatan yang menghibur. Harusnya begitu. Sehingga setelah holiday, kita bisa melanjutkan aktifitas dengan lebih fresh.

Tapi buat saya (dan keluarga), selama ini holiday artinya tak lebih dari hari libur biasa. Boro-boro berlibur ke tempat-tempat khusus. Bahkan sekedar mencari kegiatan yang menghibur saja sudah jarang banget bisa dilakukan.

Kehidupan yang tidak sehat!

Iya – iya … Saya tahu. Tapi mau bagaimana lagi?

Apakah mungkin hal ini juga dialami oleh keluarga-keluarga lain? Atau jangan-jangan hanya keluarga saya saja?


Jangan mengeluh

Jangan mengeluh – jangan mengaduh !
Hanya akan menambah gaduh …
Dan tak akan membuatmu menjadi sembuh.


There’s Not Enough Time!

Terkadang saya merasa waktu semakin cepat. Hari berganti. Dan tiba-tiba saja, akhir minggu telah sampai. Lagi.

Baru teringat, banyak janji yang belum bisa dipenuhi. Banyak tenggat pekerjaan yang tiba-tiba berkejaran. Dan lalu merasa, butuh waktu tambahan lagi. Rasa-rasanya sehari 24 jam tak mencukupi lagi.

Hhhhh! Tetap saja sekarang harus rehat dulu.


Pengen ngamuk karena ngantuk

Huh! Beginilah kalau maksain masuk kerja padahal kondisi gak prima. Bawaannya ngantuk melulu. Kadang-kadang masih ditambah pengen ngamuk. Suntuk !!!

Tadi malam  - entah kenapa – saya malah gak bisa tidur. Mungkin karena seharian sudah tidur melulu. Alhasil, sampai jam 2 dini hari saya masih melotot. Dan … setengah jam kemudian saya malah mulai ngantuk. Baru saja – perasaan saya sih –  tidur, tiba-tiba terbangun, karena kamar tiba-tiba terasa panas. Mulailah saya terbatuk-batuk tanpa henti. Dan itu sampai menjelang pagi.

Akhirnya saya keluar kamar sekitar jam 04:15.

Bengong. Gak jelas. Lemes. Separo ngantuk.

Hari ini saya benar-benar kerja dengan suasana hati yang gak bagus sama sekali. Bawaannya ngantuk. Dan pengen ngamuk. Atau mungkin ini juga pengaruh hawa hari ini ya? Perasaan panas banget hari ini ….

Ada yang punya obat ngantuk ngamuk?

ngutip statusnya mbak Anjar Anastasia di FB :
mengapa senja ini kau kirimkan sumpah serapah?
tidakkah panas menyengat sudah jadi masalah?

Didatangi wartawan?

Hari masih pagi. Bidadari baru saja pergi berangkat les. Ibu bidadari sedang ke pasar kaget di depan komplek perumahan. Saya sedang bersiap untuk tiduran lagi, ketika mendengar pintu pagar ada yang membuka. Sambil menahan pusing, saya mengintip melalui jendela. Seorang lelaki dengan menggunakan seragam warna biru menerebos masuk ke halaman rumah. Di tangannya saya lihat dia menggenggam camera. Hah? Wartawan?

Saya buru-buru bangun dengan kepala setengah keliyengan. Hari ini saya tidak masuk kerja gara-gara kepala yang tidak bisa diajak kompromi. Langsung saya sambar kaos yang saya pakai tadi malam. Malu kan kalau nanti ditanya wartawan gak pakai baju. Tapi wartawan apa ya? Lagian … kok main selonong aja ke rumah orang. Penjahat?

“Permisi …” lhaaaa. Sudah di dalam halaman rumah koq baru ngasih salam.

Belum sempat saya menjawab, dia sudah berteriak lagi.

“Mo check listrik bu ….” Heh? Saya koq dipanggil ibu sih. Ups. Dia kan belum liat saya, pasti dikira yang ada di rumah hanya para ibu di jam-jam segini.

“Eh … bapak. Met pagi pak. Mo check listrik pak.” Si seragam biru menyapa saya sambil memotret kotak meteran listrik.

“Pagi juga. Canggih ya sekarang, gak manual lagi. Tinggal klik, beres deh.”

“Iya nih pak. Baik pak. Makasih ya pak.” dia pamitan sambil memasukkan kameranya ke kantong seragam birunya.

Saya baru tahu kalau pencatatan tagihan listrik menggunakan kamera sekarang. Dan petugasnya juga rapi. Menggunakan seragam biru (seragam PLN? gak terlalu memperhatikan tadi) dan juga sopan. Seingat saya, dulu yang nyatat tagihan listrik keliling adalah tenaga yang diambil disediakan dari RT.

Ah … tidur aja lagi. Kepala terasa makin puyeng (walaupun bukan gara-gara melihat petugas berseragam biru tadi). Hehehehehe


Jika aku bicara sekarang



jika aku bicara sekarang
dan sebagian lagi akan menyalahkan saya
tetapi sebagian lagi akan memaklumi dunia.
dan mereka akan memetik hal yang baik dari kemakluman itu
atau hanya keburukannya
maafkan, saya lebih baik diam

jika saya bersuara sekarang
maka itu hanya membuat saya sedikit terlihat lebih baik
dan beberapa lainnya terlihat lebih buruk sebenarnya
maka, saya lebih baik diam

jika saya berkata sekarang
maka hanya ada caci maki memuakkan
serta semua hina pada keadilan
maka, saya lebih baik diam

saya hanya akan berkata pada Tuhan
bersuara pada yang berhak
berkata pada diri sendiri
lalu diam kepada yang lainnya

lalu biarkan
seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang

bareskrim 2010 , Ariel dari Bandung.



Masalah sepele

Sebagai staff IT Support, sudah tidak terhitung lagi, berapa kali saya menemui user yang meminta bantuan hanya untuk masalah-masalah sepele. Jaringan yang tidak terhubung hanya karena kabel networknya lepas. Tidak bisa membuka sebuah dokumen, karena file yang diterimanya melalui email dibuat dalam versi yang lebih tinggi daripada yang terpasang di komputernya. Komputer yang tidak mau hidup karena kabel catudayanya tersenggol. Gagal kirim email karena penulisan alamat emailnya salah ~ cuma beda 1 huruf dowang pak – hadoooh.

Dan masih banyak masalah – masalah sepele lain, yang menurut saya seharusnya mereka bisa menyelesaikan sendiri. Eiiit … tunggu dulu! Benarkah itu termasuk masalah-masalah yang sepele?

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu ketika ngecat rumah.

Lebih dari 15 menit saya harus berkutat membuka tutup cat. Saya mencoba mencari celah dan saya congkel dengan obeng. Tidak aau. Saya putar-putar ke kiri dan ke kanan tutupnya, tidak juga berhasil. Akhirnya saya membukanya dengan membuat lobang di tutupnya. Dari lobang itu baru saya congkel tutupnya menggunakan obeng. Beres?

Sementara dowang. Ketika sudah sore dan sudah selesai, sisa cat tidak bisa ditutup lagi, karena tutupnya sudah mleyot tidak berbentuk dan berlobang.  Membuka kaleng cat – untuk orang yang tidak terbiasa – memang bukan lagi masuk kategori masalah sepele.

Saya nelajar satu hal dari kejadian ini, saya tidak lagi mempunyai kategori masalah sepele – kalau ada user yang membutuhkan bantuan. Siapa tahu dia lebih jago dari saya dalam hal membuka kaleng cat.


Belajar menghargai …

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang asyik di depan komputer, anak perempuan saya yang masih kelas 3 SD  dengan penuh semangat menunjukkan jarinya dan memaksa saya untuk melihat. Dengan malas saya menoleh. Sebentar. Selain memang sedang suntuk karena design yang harus saya kerjakan berubah-berubah terus, saya juga tidak terlalu tertarik dengan apa yang dia tunjukkan.

Permainan karet gelang. Bidadari saya menunjukkan karet gelang yang  dikaitkan di kedua tangannya dan dengan gerakan tertentu menghasilkan bentuk-bentuk yang berbeda.

“Ini huruf A …, W…. lalu Y. Terus ……..kupu-kupu. Bagus kan?” Celotehnya dengan riang.

Saya melirik. Sekilas. Pandangan saya kembali ke monitor. Anak saya masih terus menunjukkan beberapa bentuk lagi, sambil menerangkan bentuk apa yang sudah selesai. Bagus … bagus. Sesekali saya berkomentar. Lama kelamaan  dia sadar bahwa saya nyaris tidak memperhatikan dia sama sekali. Perlahan dia beringsut ke dekat tv.

Merasa tidak ada gangguan saya meneruskan pekerjaan saya kembali. Dan peristiwa itu hampir tak meninggalkan arti pada saya. Saya sudah melupakannya.

Hingga hari ini …  Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.