Arsip Tag: belajar menulis

Tertahan hujan …

KRL jurusan Bogor yang saya naiki baru saja berhenti di stasiun Depok. Saya berdesak-desakan keluar dengan agak susah, karena dari arah luar para penumpang yang akan menuju Depok menyerbu masuk. Setelah bersusah payah, saya berhasil membawa badan besar saya ke luar gerbong. Peron penuh banget. Tumben. Dan saya baru sadar apa penyebabnya.

Hujan deras banget!!!

Selama di dalam kereta tidak terasa hujannya. Duuuh. Mau duduk di peron, kayaknya dah gak memungkinkan lagi. Tapi peron seberang kayaknya masih longgar. Dengan sedikit nekad saya lari ke seberang. Baru saja mau melangkah memasuki peron, hujan sepertinya berkurang. Tiba-tiba saja. Saya membatalkan ke peron dan langsung menyeberang jalur 1 menuju pintu ke luar. Belum lagi melangkah keluar dari stasiun, tiba-tiba (ya .. dari tadi tiba-tiba melulu) hujan menggila lagi.  Terpaksa saya menunggu bersama penumpang lain yang terjebak di situ.

Saya tidak takut air. Saya jarang  menunggu hujan berhenti. Biasanya saya langsung menerabas hujan. Toh sampai rumah saya bisa langsung bisa mandi dan ganti baju. Tetapi sekali ini, kelihatannay saya harus merubah kebiasaan itu. Berlembar-lembar contoh soal yang saya bawa pastilah tidak segagah saya dalam menerobos hujan. Kalau dipaksakan, pastilah menjadi bubur kertas sesampainya di rumah.

Saya memutuskan menanti hujan reda.


Sang Peziarah


Komentar pertama

Saya menulis untuk saya sendiri. Tidak ada yang membaca juga tidak apa-apa. Toh saya menulis bukan untuk menjadi tenar atau nge-top. Saya menulis karena ingin menulis.

Kebanyakan bloger (mungkin) berpikiran seperti itu. Tidak terkecuali saya. Selama ini saya pernah mencoba mempunyai 3 tempat belajar menulis. Tapi benarkah kalau tidak ada yang membaca tulisan-tulisan saya, tidak apa-apa? Ya. Memang tidak apa-apa sih.

Tapi ketika ada yang ‘meninggalkan‘ komentar pada tulisan-tulisan yang saya buat, ada perasaan senang juga ternyata.

Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, untuk beberapa teman yang sudah mengawali meninggalkan komentar di blog saya ini. Jejak kalian semua di blog ini, semoga mampu memberikan semangat kepada saya untuk tetap menulis dan menulis lagi.


Mantan pacar

Suara meongan kucing yang gak jelas yang aku jadikan ringtone hapeku – melengking tanpa ampun dan menyeretku dari lamunan yang gak jelas juga siang itu.

Istriku.

“Mas, aku boleh gak – ikut jadi panitia reuni SMA?” Aku mendengar suara – suara agak berisik di latar belakangnya. Apakah istriku lagi di pasar?

“Ikut aja. Siapa tahu ada teman-teman lamamu yang bisa diajak ngembangin bisnis. Ngomong-ngomong, kamu lagi di mana?”  Aku bergegas bangun menuju kulkas di kamar hotel itu. Haus ….

“Lagi di Dapur Sunda. Diajak makan siang sama mereka. Tapi salah satu panitianya adalah mantanku. Gpp?”

Tanganku yang sedang meraih botol minuman langsung terhenti. Mantan?

“Mantanmu yang mana?” Setahuku, pada waktu SMA pacarnya cukup banyak. Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.