Arsip Kategori: hari-hariku

Menuju kehangatan

Saya melangkah gagah keluar stasiun – di tengah hujan deras yang mengguyur bumi Depok. Penumpang lain yang masih menunggu di stasiun serentak berdiri dan bertepuk tangan riuh rendah.  Sebagian tidak saja bertepuk tangan, tetapi juga meneriakkan nama saya untuk memberi semangat. Dengan semangat empat lima – (duh …. dulu banget yak?), saya meneruskan langkah menuju penitipan motor. 

Enggak gitu-gitu juga sih.  Lebay ….

Yang sebenarnya terjadi adalah, setelah menunggu hampir 1,5 jam dan ternyata hujan semakin deras, saya memutuskan untuk pulang. Menerobos hujan tentunya. Kertas-kertas soal saya atur lagi di dalam tas, supaya tidak terlalu basah.  Setelah memastikan cukup terlindung, saya melangkah keluar stasiun di tengah guyuran hujan deras. Beberapa mata terlihat mengikuti langkah saya. Pasti saya dikira orang tua gila yang cukup sinting menerobos hujan tanpa payung. Padahal hujan masih sangat-sangat lebat.

Setelah sampai di stasiun – disambut senyum penjaga melihat saya basah kuyup, semua barang saya masukkan ke bagasi motor. Saya sisakan tas kain yang saya buat sebagai penutup kepala. Bukan untuk melindungi kepala saya dari air hujan – rambut saya sudah basah kuyup, tetapi untuk melindungi bagian dalam helm supaya tidak basah. Dengan dandanan mirip tentara  Jepang plus helm, saya menuju pulang. Dalam kedinginan yang menampar tanpa belas kasihan.

Menuju rumah. Tempat kehangatan seharusnya disediakan.

Dengan cuma-cuma.

Gambar diambil dari :  http://www.gettyimages.com


Tertahan hujan …

KRL jurusan Bogor yang saya naiki baru saja berhenti di stasiun Depok. Saya berdesak-desakan keluar dengan agak susah, karena dari arah luar para penumpang yang akan menuju Depok menyerbu masuk. Setelah bersusah payah, saya berhasil membawa badan besar saya ke luar gerbong. Peron penuh banget. Tumben. Dan saya baru sadar apa penyebabnya.

Hujan deras banget!!!

Selama di dalam kereta tidak terasa hujannya. Duuuh. Mau duduk di peron, kayaknya dah gak memungkinkan lagi. Tapi peron seberang kayaknya masih longgar. Dengan sedikit nekad saya lari ke seberang. Baru saja mau melangkah memasuki peron, hujan sepertinya berkurang. Tiba-tiba saja. Saya membatalkan ke peron dan langsung menyeberang jalur 1 menuju pintu ke luar. Belum lagi melangkah keluar dari stasiun, tiba-tiba (ya .. dari tadi tiba-tiba melulu) hujan menggila lagi.  Terpaksa saya menunggu bersama penumpang lain yang terjebak di situ.

Saya tidak takut air. Saya jarang  menunggu hujan berhenti. Biasanya saya langsung menerabas hujan. Toh sampai rumah saya bisa langsung bisa mandi dan ganti baju. Tetapi sekali ini, kelihatannay saya harus merubah kebiasaan itu. Berlembar-lembar contoh soal yang saya bawa pastilah tidak segagah saya dalam menerobos hujan. Kalau dipaksakan, pastilah menjadi bubur kertas sesampainya di rumah.

Saya memutuskan menanti hujan reda.


Terlalu banyak yang dilupakan

Tidak bisa dipungkiri, semakin bertambahnya usia, kemampuan untuk mengingat semakin berkurang. Banyak ide yang berseliweran -termasuk ide untuk tulisan,  tetapi akhirnya hilang dan tidak pernah terwujud. Banyak rencana yang ingin dijalankan, tetapi kebanyakan hanya sebatas rencana. Tanpa pernah ada realisasinya, karena faktor lupa.

Salah satunya adalah saya lupa untuk update blog ini. Sudah sekian lama blog ini terlantar. Juga blog saya yang lain. Sudah saatnya (mungkin) untuk mulai menguatkan niat untuk melakukan sesuatu. Sehingga niat tersebut bisa menjadi sebuah hasil. dan bukan sekedar tertinggal sabagai niat.

Termasuk niat untuk lebih sering menulis. Siapa tahu bisa mengikuti jejak pak Budi Rahardjo yang hampir setiap hari selalu ada update di blog-nya. Hehehehe …


Ada apa dengan saya?

Sudah sangat lama gak posting di sini. Sepertinya saya memang sudah lama tidak menulis apapun dimanapun.  Blog terlantar. Tulisan untuk buku juga mentok begitu saja. Banyak kerjaan? Sibuk dengan kegiatan?

Sepertinya bukan itu masalahnya. Waktu seharusnya bisa diatur. Untuk menulis tidak harus menaghabiskan waktu berjam-jam. Yang tidak saya punyai adalah keinginan.

Ya … Tiba-tiba saya merasa tidak ada lagi keinginan  untuk menulis. Dan rasa-rasanya saya juga kehilangan keinginan untuk melakukan apapun.  Kehidupan saya menjadi sebuah rutinitas yang mulai terasa membosankan. Melakukan pekerjaan hanya sekedar menjadi tugas yang semamin terasa memberatkan dari hari ke hari.

Dan seringkali saya merasa kehilangan orientasi – ada di mana saat itu. Perjalanan naik motor dari setasiun ke rumah ketika pulang kerja, kadang-kadang tidak berasa. Seringkali saya tidak ingat lagi di sepanjang perjalanan tadi saya berpapasan dengan apa.

Apakah mungkin karena begitu banyak beban yang harus saya pikirkan? Apakah karena saya biasa memikirkan semuanya sendiri? Apakah saya perlu berbagi cerita kepada orang lain? Apakah saya …..

Duuuh …..

Ada apa dengan saya ya?

Gambar diambil dari :  http://www.gettyimages.com


Itu sih bukan pulang cepet

Saya sudah punya tempat langganan untuk menitipkan motor. Tidak pernah pindah-pindah. Salah satu alasannya adalah, yang jaga parkir penitipannya adalah 2 anak muda yang ramah. Selain itu lokasinya tidak jauh dari stasiun Depok Lama, tapi juga tidak terlalu dekat.

Ada jarak dari stasiun kira-kira 300 meter. Jadi saya masih  bisa memaksa men-jalankaki-kan diri setidaknya setiap pagi dan sore.

Saya biasanya mengambil motor kurang lebih jam 7:40.  Ini naik KRL ‘seadanya’ dari Manggarai.  Kadang – kadang ngambil motor jam 22:35, kalau naik kereta ekoAC yang berangkat Manggarai jam 10 malam. Yang paling sering sampai di tempat penitipan jam 21:05 - kalau naik kereta yang jam 8 malam dari Manggarai.

Karena hari ini saya ada keperluan di rumah dan berencana minta ijin untuk pulang lebih cepat, pagi – ketika menitipkan motor saya berpesan pada yang jaga, bahwa saya akan pulang cepat. Hal ini harus dilakukan, karena kalau tidak, sesuai dengan kebiasaan saya untuk ambil motor jam 9 malam, maka posisi motor saya selalu berada di pojok. Tertutup dengan barisan motor-motor lain. Dan kalau tetap di situ, maka saya akan kesulitan mengeluarkan motor kalau ngambilnya lebih sore, karena motor-motor di sekeliling motor saya masih lengkap.

Sore itu, setelah mendapatkan ijin pulang cepat, saya langsung kabur menuju stasiun Manggarai dan kebagian ekoAC balik yang berangkat jam 16:00. Dan saya sudah sampai di stasiun Depok Lama jam 16:33.

Dan disinilah masalahnya …. Continue reading


Holiday ke mana?

Holiday itu hari libur kan ya? Seharusnya juga diisi dengan berlibur. Atau minimal kegiatan-kegiatan yang menghibur. Harusnya begitu. Sehingga setelah holiday, kita bisa melanjutkan aktifitas dengan lebih fresh.

Tapi buat saya (dan keluarga), selama ini holiday artinya tak lebih dari hari libur biasa. Boro-boro berlibur ke tempat-tempat khusus. Bahkan sekedar mencari kegiatan yang menghibur saja sudah jarang banget bisa dilakukan.

Kehidupan yang tidak sehat!

Iya – iya … Saya tahu. Tapi mau bagaimana lagi?

Apakah mungkin hal ini juga dialami oleh keluarga-keluarga lain? Atau jangan-jangan hanya keluarga saya saja?


Jangan mengeluh

Jangan mengeluh – jangan mengaduh !
Hanya akan menambah gaduh …
Dan tak akan membuatmu menjadi sembuh.


There’s Not Enough Time!

Terkadang saya merasa waktu semakin cepat. Hari berganti. Dan tiba-tiba saja, akhir minggu telah sampai. Lagi.

Baru teringat, banyak janji yang belum bisa dipenuhi. Banyak tenggat pekerjaan yang tiba-tiba berkejaran. Dan lalu merasa, butuh waktu tambahan lagi. Rasa-rasanya sehari 24 jam tak mencukupi lagi.

Hhhhh! Tetap saja sekarang harus rehat dulu.


Pengen ngamuk karena ngantuk

Huh! Beginilah kalau maksain masuk kerja padahal kondisi gak prima. Bawaannya ngantuk melulu. Kadang-kadang masih ditambah pengen ngamuk. Suntuk !!!

Tadi malam  - entah kenapa – saya malah gak bisa tidur. Mungkin karena seharian sudah tidur melulu. Alhasil, sampai jam 2 dini hari saya masih melotot. Dan … setengah jam kemudian saya malah mulai ngantuk. Baru saja – perasaan saya sih –  tidur, tiba-tiba terbangun, karena kamar tiba-tiba terasa panas. Mulailah saya terbatuk-batuk tanpa henti. Dan itu sampai menjelang pagi.

Akhirnya saya keluar kamar sekitar jam 04:15.

Bengong. Gak jelas. Lemes. Separo ngantuk.

Hari ini saya benar-benar kerja dengan suasana hati yang gak bagus sama sekali. Bawaannya ngantuk. Dan pengen ngamuk. Atau mungkin ini juga pengaruh hawa hari ini ya? Perasaan panas banget hari ini ….

Ada yang punya obat ngantuk ngamuk?

ngutip statusnya mbak Anjar Anastasia di FB :
mengapa senja ini kau kirimkan sumpah serapah?
tidakkah panas menyengat sudah jadi masalah?

Didatangi wartawan?

Hari masih pagi. Bidadari baru saja pergi berangkat les. Ibu bidadari sedang ke pasar kaget di depan komplek perumahan. Saya sedang bersiap untuk tiduran lagi, ketika mendengar pintu pagar ada yang membuka. Sambil menahan pusing, saya mengintip melalui jendela. Seorang lelaki dengan menggunakan seragam warna biru menerebos masuk ke halaman rumah. Di tangannya saya lihat dia menggenggam camera. Hah? Wartawan?

Saya buru-buru bangun dengan kepala setengah keliyengan. Hari ini saya tidak masuk kerja gara-gara kepala yang tidak bisa diajak kompromi. Langsung saya sambar kaos yang saya pakai tadi malam. Malu kan kalau nanti ditanya wartawan gak pakai baju. Tapi wartawan apa ya? Lagian … kok main selonong aja ke rumah orang. Penjahat?

“Permisi …” lhaaaa. Sudah di dalam halaman rumah koq baru ngasih salam.

Belum sempat saya menjawab, dia sudah berteriak lagi.

“Mo check listrik bu ….” Heh? Saya koq dipanggil ibu sih. Ups. Dia kan belum liat saya, pasti dikira yang ada di rumah hanya para ibu di jam-jam segini.

“Eh … bapak. Met pagi pak. Mo check listrik pak.” Si seragam biru menyapa saya sambil memotret kotak meteran listrik.

“Pagi juga. Canggih ya sekarang, gak manual lagi. Tinggal klik, beres deh.”

“Iya nih pak. Baik pak. Makasih ya pak.” dia pamitan sambil memasukkan kameranya ke kantong seragam birunya.

Saya baru tahu kalau pencatatan tagihan listrik menggunakan kamera sekarang. Dan petugasnya juga rapi. Menggunakan seragam biru (seragam PLN? gak terlalu memperhatikan tadi) dan juga sopan. Seingat saya, dulu yang nyatat tagihan listrik keliling adalah tenaga yang diambil disediakan dari RT.

Ah … tidur aja lagi. Kepala terasa makin puyeng (walaupun bukan gara-gara melihat petugas berseragam biru tadi). Hehehehehe


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.