Saya melangkah gagah keluar stasiun – di tengah hujan deras yang mengguyur bumi Depok. Penumpang lain yang masih menunggu di stasiun serentak berdiri dan bertepuk tangan riuh rendah. Sebagian tidak saja bertepuk tangan, tetapi juga meneriakkan nama saya untuk memberi semangat. Dengan semangat empat lima – (duh …. dulu banget yak?), saya meneruskan langkah menuju penitipan motor.
Enggak gitu-gitu juga sih. Lebay ….
Yang sebenarnya terjadi adalah, setelah menunggu hampir 1,5 jam dan ternyata hujan semakin deras, saya memutuskan untuk pulang. Menerobos hujan tentunya. Kertas-kertas soal saya atur lagi di dalam tas, supaya tidak terlalu basah. Setelah memastikan cukup terlindung, saya melangkah keluar stasiun di tengah guyuran hujan deras. Beberapa mata terlihat mengikuti langkah saya. Pasti saya dikira orang tua gila yang cukup sinting menerobos hujan tanpa payung. Padahal hujan masih sangat-sangat lebat.
Setelah sampai di stasiun – disambut senyum penjaga melihat saya basah kuyup, semua barang saya masukkan ke bagasi motor. Saya sisakan tas kain yang saya buat sebagai penutup kepala. Bukan untuk melindungi kepala saya dari air hujan – rambut saya sudah basah kuyup, tetapi untuk melindungi bagian dalam helm supaya tidak basah. Dengan dandanan mirip tentara Jepang plus helm, saya menuju pulang. Dalam kedinginan yang menampar tanpa belas kasihan.
Menuju rumah. Tempat kehangatan seharusnya disediakan.
Dengan cuma-cuma.
Gambar diambil dari : http://www.gettyimages.com








